Sejak usia Sekolah Menengan Pertama, saya menyadari betapa masyarakat kita sangat kental dengan dunia klenik. Untuk meraih kehidupan, kesehatan dan keberuntungan hampir tidak lepas dari dunia ini. Saya merasakan dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang mengeluhkan penyakit yang dideritanya kepada orang yang disebut orang pintar dengan ritual tertentu, tanpa obat dan sembuh langsung maupun berangsur. Memang tidak selalu didapatkan kesembuhan itu, tetapi kejadian itu nyata. Hal demikian saya melihatnya tiap hari. Belum lagi yang datang dengan mengeluhkan permasalahan hidup , lebih banyak lagi, dan dengan ritual tertentu permasalahan tersebut bisa diselesaikan. Sekali lagi, meskipun solusi tidak selalu diperoleh , tetapi realita itu nyata adanya.
Semakin gede, sekolah juga semakin tinggi, informasi yang diperoleh dari para guru yang alim, saya meyakini bahwa upaya di atas adalah kebatilan dan harus dijauhi. Kemudian kuliah di Fakultas Kedolteran Universitas Airlangga Surabaya. Di sinilah pikiran saya tercerahkan dengan Ilmu dan Science. Dengan latar belakang keilmuan ini dan ilmu agama dari para alim, saya kekeh dengan metode ilmiah, suatu pernyataan ( sebagai ilmu pengetahuan ) hanya bisa diterima kebenarannya setelah melalui serangkaian langkah-langkah ilmiah, yaitu observasi, perumusan masalah, mengajukan hipotesa, melakukan eksperimen, memutuskan diterimanya pernyataan sebagai teori dan akhirnya bila sudah dibuktikan berulang-ulang diterima sebagai hukum. Dengan demikian, saya dididik untuk tidak menerima segala sesuatu yang tidak bersumber dari literatur atau dari hasil sebuah penelitian dalam jurnal ilmiah. Saya hanya menerima hal yang tidak ilmiah atau tidak masuk di akal bila bersumber dari kitab suci dan hadits yang shahih. Selanjutnya lulus dan dilantik dengan gelar dokter tahun 1990 saya berpraktek di berbagai klinik dan rumah sakit. Setelah berpraktek inilah saya banyak menemukan hal yang tidak bisa saya jawab dan selesaikan. Saya sangat yakin bahwa saya tidak sendirian, bukan hanya saya yang mengalami.
Mulanya saya sangat sedih ketika datang pasien dengan keluhan yang tidak jelas arah diagnose penyakitnya. Sebagai dokter umum tentu berpikir bahwa konsultasi kepada dokter spesialis lebih aman bila pasien adalah baru pertama kali mengeluhkan keluhannya. Tetapi bila pasien mengatakan bahwa sudah kesana kemari termasuk berbagai dokter spesialis didatangi, tentu dan kebanyakan menolak untuk dikonsulkan. Akhirnya saya bingung sendiri, saya kira begitu juga sejawat dokter lain bila mendapati pasien seperti ini. Suatu saat saya berkenalan dengan model terapi akupuntur, segera saya ikuti kursus yang kebetulan lembaga kursusnya milik kementrian kesehatan, mantaplah hati saya, ditambah lagi para intrukturnya adalah dosen-dosen saya waktu kuliah di fakultas kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, karena itu sedikitpun saya tidak ada keraguan dilihat dari sudut ilmiah. Maka bertambahlah ketrampilan saya sekitar tahun 1999 yaitu terapi akunpuntur walaupun belajar saya masih sebatas terapi nyeri. Alhamdulillah telah banyak mengurangi kebingungan saya ketika menghadapi pasien yang telah buying a doctor kemana-mana. Namun ketika saya mengenal terapi ruqiyah sekitar tahun 2003, secara tidak saya sadari akupuntur untuk keluhan nyeri telah saya tinggalkan karena keluhan pasien dengan nyeri telah tergantikan terapinya dengan terapi model ini. Terlebih ketika saya tahu bahwa terapi ini akan lebih sempurna bila disertai dengan pemijatan di bagian yang sakit maka terapi akupuntur benar-benar tidak saya perhitungkan lagi. Tetapi tidak menutup kemungkinan menggunakan akupuntur untuk jenis penyakit yang lain.
Terakhir, ketika saya mengenal terapi pusratu ( Pusat Rawatan Tanpa Ubat ) dari Malaysia, saya benar-benar terbelalak, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sangat masuk akal, tidak bertentangan dengan cara berpikir dunia kedokteran konvensional. Teknik pijatan tertentu untuk meluruskan tulang belakang yang bengkok benar-benar memberikan hasil yang mencengangkan terutama terhadap kasus syaraf kejepit. Nah kasus seperti ini sangat banyak di masyarakat yang pada umumnya pengobatan para professional tidak memberikan dampak kecuali sedikit, tetapi dengan cara pusratu cukup dengan sekali tindakan telah memberikan hasil lebih dari 70% keluhan berkurang. Maka semua teknik yang saya punyai saya satukan dengan pusratu jadilah terapi saya ini holistic. Dari hari ke hari kunjungan pasien ke tempat praktek bertambah hanya dengan promosi dari para mantan pasien. Kata dan teknik Pusratu kini telah saya naturalisasikan dan modifikasi menjadi Lantano yaitu Layanan Terapi Tanpa Obat. Dengan kalimat ini, maka semua teknik terapi non invasive yang logis masuk katagori Lantano.
Meski di halaman awal ini yang saya perkenalkan kepada anda hanya Terapi Lantano, akan tetapi bukan berarti di tempat saya hanya Lantano yang menjadi unggulan, tetapi masih ada lain lagi layanan yang eksentrik, yang tidak akan anda dapatkan di fasilitas yang lain.
Jadi setidaknya ada 5 keunggulan di tempat praktek Dr Wachid MGA Marasake, yaitu :
- Sebagai dokter, ini menjamin bahwa semua proses adalah professional dan ilmiah serta tidak melanggar peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan.
- Layanan rawatan tanpa obat dengan pijatan dan tanpa menggunakan peralatan yang invasive ( Lantano )
- Terapi doa yang menjamin bahwa terapi ini searah dengan keimanan dalam menghadapi penyakit nonmedis.
- Sunat metode smart klamp tanpa jarum suntik yang hasilnya sangat bagus, waktu cepat antara 5-7 menit, tidak sakit, tanpa perdarahan dan bisa langsung pakai celana bersekola bahkan berenang.
- Pelaksanaan konsep Karnus yang menfokuskan pada kesehatan lambung.
dr. Wachid MGA Marasake

Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.